Mahal-Murah Air Partikelir

SEBELAS tahun bukan waktu yang singkat bagi Marietta Ursamsi bila air yang menjadi soal. Ia setia membayar iuran selama 11 tahun. Namun, cuma dua tahun pertama ia menerima air bersih. Setelah itu, Marietta—nama sebenarnya disamarkan—harus menghabiskan Rp 21.000 per hari untuk membeli air mineral guna keperluan makan dan minum—dan sesekali, membilas tubuh. Dan ini belum semuanya. Seluruh keluarga kena penyakit kulit gara-gara mandi dengan air leding penuh endapan zat besi. Marietta, suami, dan anak lelakinya mengeluarkan banyak ongkos untuk berobat ke dokter kulit. Biaya terus meningkat karena buduk di tubuh suaminya—selama dua tahun terakhir—hanya bisa hilang dengan olesan Marisone Combe, salep seharga Rp 35.000 per tube kecil. “Setiap salepnya habis, buduknya kumat lagi,” ujar nyonya muda itu, prihatin. Marietta hanya satu contoh betapa tidak berdayanya konsumen air di Jakarta—dalam sebuah sistem usaha yang monopolistis. Selama 77 tahun—lahir pada 22 Desember 1922—Perusahaan Air Minum praktis menjadi badan usaha yang dikelola pemerintah: sebelum 1945, dengan nama Waterleidingen, berada di bawah pemerintah Hindia Belanda. Setelah 1945, ia beralih nama menjadi PAM Jaya. Setengah abad setelah merdeka, barulah PAM Jaya mencatat sebuah langkah yang, mestinya, fenomenal: bermitra dengan swasta untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen. Dua nama besar masuk ke gelanggang, Thames Water International (Thames PAM Jaya) dari Inggris, dan Lyonnaise des Eaux (PAM Lyonnaise Jaya alias Palyja) dari Prancis. Dari segi undang-undang, kehadiran kedua mitra ini sebetulnya melanggar Undang-Undang No. 1/1961, yang melarang penswastaan bisnis air minum. Namun, menurut Rama Boedi, Direktur Utama PAM Jaya, aturan ini boleh diabaikan sejauh ada kemitraan dengan pengusaha. Maka, kerja sama “model kroni Soeharto” lagi-lagi terjadi. Thames bermitra dengan PT Kekar Airindo milik Sigit Hardjojudanto. Lyonnaise menggandeng PT Garuda Dipta Semesta—saham terbesarnya milik Anthony Salim. Kedua mitra lokal ini terempas menyusul turunnya Soeharto pada Mei 1998. Pemda DKI mengambil alih dengan saham 10 persen—sementara Thames dan Lyonnaise sebagai pemilik saham mayoritas 90 persen. Mengingat prestasi internasional kedua mitra swasta asing ini, sebetulnya konsumen PAM boleh berharap ada perbaikan lewat penswastaan. Akan ada kompetisi yang lebih sehat, servis kepada konsumen meningkat, harga bersaing—seperti yang sudah terjadi pada BUMN Telkom dan Indosat. Syaratnya satu: fair trade. Sayang, praktek penswastaan PAM Jaya justru memperlihatkan semua ciri unfair trade. Thames dan Lyonnaise masuk ke PAM tanpa tender dan uji tuntas. Mereka sekadar berbekal instruksi menteri pada 1996. Dan setelah Sigit dan Salim tersingkir, kontrak kerja sama Thames dan Lyonnaise toh dilanjutkan tanpa revisi kontrak. “Mereka tidak menginvestasi, tapi mengambil begitu saja aset, manajemen, modal. Tidak ada transfer teknologi, tidak jelas berapa dana yang ditanam. Akhirnya, masyarakat juga yang menyubsidi. Ini semacam kejahatan korporasi,” ujar Teten Masduki, Koordinator Indonesian Corruption Watch. Sementara itu, pihak PAM Jaya ibarat lebai malang di tengah dua raksasa swasta. Posisinya sangat lemah dalam menentukan harga air. Misalnya, untuk semester I tahun 1999, PT Thames PAM Jaya menetapkan harga Rp 2.400 per meter kubik, dan Palyja Rp 2.900 per meter kubik. Padahal, harga jual air PAM Jaya ke konsumen jauh di bawah itu, yakni Rp 2.130 per meter kubik. Alhasil, perusahaan daerah ini harus menutup kekurangannya. Artinya, defisit tahun 1999 yang harus ditanggung pemerintah adalah Rp 114 miliar. Pihak DPRD DKI memang membahas soal ini dalam sidang-sidang mereka. Namun, hasilnya jauh dari memuaskan. Hasil sidang Komisi D pada September 1998, misalnya, memutuskan antara lain: “…mendukung kerja sama PAM Jaya dengan kedua mitra swasta sepanjang saling menguntungkan semua pihak.” Dukungan di atas praktis tidak berarti apa-apa karena kerja sama terus berjalan, sembari PAM Jaya terus merugi—bahkan dalam lima tahun ke depan. Namun, Rama Boedi berusaha optimistis: “Siapa tahu di tahun keenam bisa untung?” Kerugian ini sebetulnya ironis mengingat captive market dalam bisnis PAM Jaya sangat besar: 2,3 juta pelanggan, dan bisa terus meningkat. Lebih ironis lagi karena air, sesungguhnya, diberikan kepada manusia secara cuma-cuma oleh alam. Dan pemakaiannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat diatur dalam undang-undang tertinggi di negeri ini: Undang-Undang Dasar 1945.

Leave a Comment

virtual host

F:\WINDOWS\system32\drivers\etc

xampp\apache\conf\extra

Leave a Comment

.htaccess redirection

egarding the .htaccess example on p23, I find that the the !-f rewrite rule is not enough to avoid unnecessary redirecting from happening; it is very common to have links to non-existing javascript, styles or images, and whenever that happens a new call is made upon index.php due to the redirection.
I.e.
If you have but mywrongimg.gif does not exist, the request will be redirected to the bootstrapper. This should be avoided as it can cause performance issues with your ZF application.

To solve the issue, I use the following rules for my .htaccess file:

RewriteEngine on
RewriteCond %{REQUEST_URI} !^/css
RewriteCond %{REQUEST_URI} !^/img
RewriteCond %{REQUEST_URI} !^/js
RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f
RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d
RewriteRule ^(.*)$ index.php/$1

That way, if any files or directory exists (!-f & !-d), it will not be redirected to the bootstrapper. Also if a file does not exist within the /css, /img, or /js folder, Apache will return a standard 404 error instead of redirecting the request to the bootstrapper.

—————————————————————————————-

The problem I have with
RewriteRule !\.(js|ico|txt|gif|jpg|png|css)$ index.php
is that whenever you want files which do not have those extensions to be handled directly by Apache, you will have to amend the RewriteRule. Using it in combination with the -d and -f rules will solve that, but then sometimes you will want a .css or .jpg, etc. file to be created by the Zend Framework (i.e. redirected to the bootstrapper).
For example:

where someimage.jpg is created on-the-fly by the ZF… that would not be possible with the aforementioned Rewrite rule.

On the other hand, using a rule such as
RewriteCond %{REQUEST_URI} !^/img
will create “safe heavens” for your images (avoiding unnecessary redirection when referencing non-existant files) and at the same it gives you the flexibility to create .jpg/gif/png files on-the-fly.

—————————————————————————————-

I agree.

RewriteRule !\.(js|ico|txt|gif|jpg|png|css)$ index.php

is far too limiting for anything other than the simple case. The “safe havens” idea is clever; I usually just turn off the Rewrite engine in that directory. Your method saves having to have multipel .htaccess files around.

http://www.manning-sandbox.com/thread.jspa?threadID=21653&tstart=210

Leave a Comment

starting bind

prosedur instalasi bind:

– yum install bind
– edit /etc/named.conf + /var/named/
– start bind
– edit httpd.conf (virtualhost + namevirtualhost
– start apache (/etc/rc.d/init.d/httpd restart)

starting bind on RedHat distributions:

/etc/init.d/named start

buat tes:

dig domain.com

Leave a Comment

Kiprah Bisnis Generasi Kinyis-kinyis

Pergi mengembara selagi usia muda. Sebab nanti bila janggut sudah turun bagai salju putih tak ‘kan punya lagi waktu Kiprah Bisnis Generasi Kinyis-kinyis

Pergi mengembara selagi usia muda. Sebab nanti bila janggut sudah turun bagai salju putih tak ‘kan punya lagi waktu, selain berbaring dengan muka sedih.
(Dodong Djiwapradja: Pustaka Jaya: Laut Biru Langit Biru)

Di lintasan sejarah di berbagai belahan bumi, anak muda adalah sebuah magma. Mereka kerap menjelma menjadi mitos. Bukalah lembaran buku sejarah. Soekarno, Mohammad Hatta dan Kartini, menelurkan ide dan karya besarnya pada usia yang belum merayapi angka 30 tahun.
Dan kini di jagat bisnis, banyak anak muda di era milenium ketiga ini yang menorehkan jejaknya sendiri, tanpa harus mengikuti ayunan langkah orang tua. Tara Amalia, Andreas Thamrin, George Oetomo, Denise Tjokrosaputro, Jureke Kusuma, Jennifer Supit, Dian Purba, Fahira Idris, hanyalah segelintir anak muda yang memilih menjadi wirausahawan ketia usia belum genap 30 tahun.
Padahal , sebagian dari mereka terlahir sebagai anak-anak kelas atas yang sebetulnya bisa menjadi pewaris kerajaan bisnis keluarga. Jureke adalah cucu pendiri Grup ABC. Denise, generasi ketiga Batik Keris. Fahira Idris, putri salah seorang pemilik Grup Kodel, Fahmi Idris. Toh, anak-anak muda ini memilih berkiprah sendiri ketimbang meneruskan perusahaan keluarga atau menjadi orang gajian di perusahaan orang lain.
Anak-anak muda itu juga mengantongi bekal akademis hebat. Banyak di antara mereka bergelar master dari luar negeri. Pemilik hak waralaba Ezy Video dari Australia George Oetomo adalah MBA Finance & Management Information System dari Rensselaer Polytechnic Institute, Troy, New York. Denise meraih gelar MBA dari George Washington University, AS. Pemilik Voxa Advertising Estelita Hidayat tercatat sebagai MBA lulusan Edith Cowan University, Perth, Australia. Jika mau menjadi prosfesional di perusahaan ternama sekalipun, bukan persoalan sulit. Namun, mereka lebih memilih bersusah payah membangun bisnis sendiri.
Bagi pengamat Bob Widyahartono, kemunculan para belia di rumah bisnis sudah diprediksikan. Mereka memiliki segalanya, baik materi maupun naluri bisnis. “Mereka mewarisi darah bisnis yang mengalir dari para orang tuanya,” tambah Bob. Juga, kesediaan dana, yang enjadika mereka punya pilihan menempatkannya pada jenis bisnis yang mereka senangi.
Tara Amalia, misalnya, memasuki kancah bisnis pada usia 27 tahun. Mengikuti jejak pakdenya, Adiguna Suwoto, Tara memulai usaha dengan memilih model waralaba dengan mengembangkan jaringan toko roti Cinnamon dari Kanada. Kelahiran Jakarta, 7 Juni 1975 ini mengaku tidak mau mencantol pada salah satu jenis usaha dari kerajaan bisnis kakeknya, Ibnu Suwoto, atau pakdenya, bahkan ibunya, Handara Sutowo. “Saya ingin berusaha sendiri sebab dari dulu bekerja pada orang lain terus,” tutur Tara yang pernah merentas karier di HSBC dan Pricewaterhouse Cooper.
Hal yang sama juga dilakukan Andreas Thamrin (anak Hermes Thamrin, pemilik Global Teleshop), yang memilih membangun bisnis ritel virtual yang menjual keping cakram berisi program entertainment. Hebatnya lagi, ia memulai usahanya itu di Negeri Kangguru saat masih tercatat sebagai mahasiswa University of New South Wales, Sydney. Cucu Taipan Sudono Salim, Fransisca Liem dan Ronald Liem, sepertinya juga emoh bergabung dengan kerajaan bisnis moyangnya yang sudah menggurita di berbagai sektor bisnis. Saat berusia 25 tahun, Fransisca memutuskan menggumuli bisnis dengan menjadi pemegang lisensi merek Hermes, Gucci dan Guess di Indonesia lewat PT Marmitria Raya Tirta.
Lantas, Dian Purba, anak tunggal pasangan dr. Darwan M. Purba dan Duma P. Walsh, tertarik menjadi wirausahawan karena banyak tantangan, sesuai hobi dan fun sekali kerjanya. Lebih dari itu, Dian mengaku merasa lebih fleksibel mengatur ritme hidupnya. Bangun pukul 8 pagi, terus olah raga ke gym, baru ke kantor atau mengontrol restonya. “Bisa juga, begitu bangun terus ke kantor dan ke gym malam hari,” ia menambahkan.
Sebelum memtuskan terjun sebagai pelaku bisnis, lajang yang 24 Februari lalu berusia 29 tahun ini sempat merentas karier sebagai Konsultan Junior di Pricewaterhouse Cooper dan Asisten Manajer Merek Lifebuoy PT Unilever Indonesia. Begitu jatuh cinta pada dunia bisnis, Dian tidak main-main. Hanya dalam tempo beberapa tahun ia sudah merambah ke berbagai bisnis yang idenya mencuat dari hobi: kafe dan butik.
Putri sulung pengusaha jamu Sido Muncul Irwan Hidajat, Maria Reviani Hidayat, akhirnya juga memilih jalur bisnis sendiri. Usai menyelesaikan kuliah di bidang industrial engineering di Universitas Washington, Maria sempat membantu sang ayah sebagai konsultan enjiniring. Rupanya, suasana Semarang kurang begitu menyenangkan hatinya. Ia kemudian memilih membantu usaha yang dikembangkan ibunya di Jakarta. Inilah awal pergumulannya dengan dunia makanan. Dari food court Red Pepper, September 2001, ia memberanikan diri membuka Flame Wine & Grill Café di kawasan Bale Air, Jakarta. “Coba-coba saja buat usaha sendiri. Kebetulan saya suka makan,” katanya enteng.
Bagi Maria, tujuan berbisnis tidaklah muluk-muluk. Apalagi, menjadikan usahanya sebesar perusahaan sang ayah. “Pokoknya, jalani saja,” tambahnya. Terpenting, ia bisa menimba pengalaman dan pelajaran mengembangkan usaha sendiri. Maklum, ia pernah merentas karier sebagai profesional di perusahaan hardware komputer di New York, sebelum bergabung dengan perusahaan keluarga.
Beruntunglah Maria karena mendapat dukungan penuh dari sang ayah, termasuk dalam hal permodalan. Ia mengaku sebagian modal mendirikan usaha ini dikucurkan dari kantong ayahnya. “Sedikit modal sendiri dan sebagian dari partner,” ia menambahkan. Namun, ia menampik menyebutkan modal yang telah dikeluarkan untuk membangun kafe tersebut. “Namanya juga usaha kecil-kecilan, nggak besarlah,” elaknya. Bahkan untuk memperketat pengeluaran, ia membeli peralatan dapur bekas dan mengeset interior yang tidak terlalu mewah.
Kelahiran Jakarta, 8 Maret 1976 ini mengatakan, sejauh ini Flame mendapat respons cukup baik. Pada hari kerja kafenya dikunjungi 100 orang lebih dan pada week end sekitar 300 orang. Ia optimistis, breakeven point (BEP) bisa tercapai dalam waktu tiga tahun. Keberhasilan Flame sampai saat ini, menurut Maria yang masih aktif membantu sang ayah di Sido Muncul, tidak terlepas dari peran 22 karyawannya saat ini.
Dukungan orang tua diakui sangat membantu kiprah anak-anak muda ini. “Siapa lagi yang bisa menjadi guru terbaik selain orang tua,” ujar Denise. Selain dukungan moril, orang tua juga menyokong modal. “Sebagian lagi dari tabungan pribadi,” kata kelahiran Solo, 4 Februari 1976 ini. Ia merasakan dukungan penuh dari orang tuanya saat mengalami banyak benturan ketika mengembangkan usaha ekspor di bawah bendera PT Tara Sentral pada 1998. Maklum, saat itu baru menyelesaikan Bsc Textile Design Technology dari Universitas Philadelphia. “Saya tidak mempunyai pengalaman dalam dunia bisnis, sehingga banyak tanya sana-sini,” kenangnya.
Jalan yang ditempuh anak-anak muda dalam menapaki medan bisnis sepertinya semulus jalan tol. Paling tidak, dari segi permodalan, mereka tak perlu menyambangi bank untuk mengajukan kredit. Ini juga dialami Silria Sari. Bersama kakaknya ia membuka usaha toko bunga Le Siga dengan modal Rp 30 juta pinjaman dari ibu mertua. “Kami tidak pernah meminta. Prinsip kami adalah meminjam,” ungkapnya. Begitu pula George Oetomo, mengaku mendapat pinjaman dari orang tuanya dalam berbisnis. “Meskipun saya mendapat bantuan modal dari orang tua, tetapi hitungannya tetap utang,” katanya. Memang diakuinya pinjaman itu lebih fleksibel dari sisi pengembalain dan tidak ada bunga. Toh, ia menandaskan tanggung jawabnya sama besarnya dengan meminjam dana dari bank.
Tak semuanya memang seperti itu. Tengoklah Ira – panggilan akrab Fahira Fahmi Idris, ia tak perlu merengek kepada ayahnya. Ia menggulirkan bisnis parselnya dengan membobol tabungannya sendiri. Boleh jadi, karena ia tak memerlukan modal besar. “Modal awalnya dikumpullkan dari teman-teman, masing-masing Rp 500 ribu,” kenang Presdir Nabila Florist Parcel & Baloon itu. Toh, diakuinya ayahnya sangat mendukung langakahnya. Sampai kini ia sangat menghayati makna dukungan ayahnya. “Kalau membuat usaha, buatlah usaha yang nantinya dicari orang sekalipun jualan bakso,” Ira menirukan pesan ayahnya itu.
Keinginan Ira menggeluti dunia usaha sejatinya dipicu oleh kekhawatiran karena dicuekin Fahmi. Ketika itu ia melihat ayahnya tak memberikan sinyal akan “meminangnya” bergabung dengan perusahaan yang dirintis sang ayah dkk. Padahal, teman-teman kuliahnya di Fakultas Ekonomi UI telah memberi label pada dirinya sebagai anak beruntung dan bermasa depan cerah karena akan mewarisi bisnis keluarga.
Kegelisahannya justru menerbitkan tekad. Bersama 11 temannya pada 1998 ia mendirikan usaha parsel. Menurutnya, ketika itu bisnis parsel belum boom seperti sekarang. Saat itu yang terpikir adalah memanfaatkan peluang di sela-sela kesibukannya menimba ilmu untuk mencari penghasilan tambahan. “Bukan karena kekurangan uang saku, tapi ingin menangkap peluang yang terbuka di depan mata,” ungkap kelahiran Jakarta, 20 Maret 1970 ini.
Memulai usaha dari nol, berbagai jurus pun dilakukannya. Kemasan parsel dibuat lebih unik dengan memasukkan pakaian dan barang-barang interior rumah. Ribuan brosur disebar ke berbagai sentra bisnis, seperti perkantoran di kawasan Sudirman dan Thamrin, Jakarta. “Usai kuliah saya menyusuri jaln Sudirman dan Thamrin menawarkan parsel lewat brosur. Dari seribu brosur yang disebar, paling-paling yang pesan parsel 100 orang,” ia bercerita.
Keuletannya membuahkan hasil. Bisnisnya menggelinding mulus. Bisnis parsel dan bunga yang semula untuk mencari tambahan uang saku ini telah berkembang lebih dari yang diharapkan. Lewat aliansi dengan FTD – jaringan pemesanan bunga di seluruh dunia – Nabila memiliki 450 jaringan toko bunga di dunia dan 150 di Indonesia. Sementara itu, jaringan parselnya baru sebatas negara-negara Asia. Nabila memilki 8 ribu pelanggan, 70% adalah pelanggan perusahaan. Omset dari bisnis bunga (florist) rata-rata Rp 2,5 miliar/tahun, termasuk komisi 15% dari penjualan lewat jaring FTD di seluruh dunia dan di Indonesia. Untuk bisnis parsel, setiap tahun rata-rata ia berhasil menjual sekitar 15 ribu unit dengan omset sekitar Rp 5 miliar. “Saat ini Nabila sedang membuka franchise karena peminatnya sudah banyak,” ungkap Ira yang memperdalam pengetahuan ihwal bunga di London School of Flowers, Inggris
Kerja keras Estelita pun berbuah manis. Ketika memulai menggulirkan usaha, lajang bertubuh sintal ini masih berusia 23 tahun. Bergandengan dengan kakaknya, Marisa Hidayat, mereka mengibarkan Voxa Communications yang bergerak di periklanan pada 1995. saat itu, ia masih fresh graduate dari FEUI. “Belum punya pengalaman bekerja apalagi berbisnis,” ujar Direktur Strategic Planning Voxa ini.
Sejatinya latar belakang keluarga Estelita bukan pebisnis. Boleh dikata Estelita dan Marisa adalah generasi pertama di keluarganya yang mendobrak pintu bisnis. Ayhnya, dokter gigi terkenal – drg. Hendra Hidayat, sedangkan ibunya mengelola klinik kesehatan di Plaza Indonesia. Dunia orang tua yang bertolak belakang dengan bisnis yang diterjuni Estelita dan kakaknya membuat mereka benar-benar merangkak dari nol. Tak heran, segala sesuatunya serba sulit, tidak semulus bisnis anak-anak pengusaha ternama. “Waktu itu tidak ada bank yang mau mengucurkan kredit. Hampir tiap hari di awal-awal merintis bisnis kami selalu menangis gara-gara dimaki klien,” kenangnya.
Insting bisnis Estelita ternyata luar biasa. Krismon yang menghajar perekonomian Indonesia dan berimbas pada hampir semua sektor bisnis, termasuk periklanan, membuatnya harus pintar meluncurkan siasat bisnis, muncullah ide meluncurkan media inovatif. “Saat krismon, orang tidak mau beriklan di jalur above the line karena biayanya mahal, sehingga harus dicarikan alternatifnya,” kata anak ke-2 dari 3 bersaudara kelahiran Jakarta, 7 Februari 1972 ini.
Diakui Estelita, awalnya sulit sekali memperkenalkan produk media inovatif pada klien, lantaran tidak ada barang contoh dan belum menembus pasar mancanegara. “Mirip orang jualan asuransi, ke mana-mana selalu ditolak karena contoh produk riilnya tidak ada,” papar wanita berambut panjang ini. Ia tak putus asa. Meski harus “ketuk pintu” dari mal ke mal menjajakan produknya, ia optimistis peluang bisnis itu pasti ada. Sampai akhirnya momen yang ditungu-tunggu itu datang juga. Sebuah asosiasi mal tertarik dan teken kontrak iklan below the line dengan Voxa. Keberhasilannya menggaet klien itu menjadi pembuka sukses langkah berikutnya. Sebab, mal-mal lain ramai-ramai mengikuti jejak asosiasinya menjadi klien Voxa.
Membanjirnya jumlah klien below the line mendorong Estelita mendirikan anak perusahaan baru, Innovoxa, pada 1999. Relasi bisnis Voxa dan orang periklanan pasti tahu jika ingin beriklan dengan media yang aneh-aneh, seperti di gerobak, toilet, pintu lift, eskalator, Innovoxalah pilihannya. Contoh produk bisa dilihat di mal Citraland, Mal Kelapa Gading, Plaza Tunjungan dan berbagai pusat perbelanjaan lain. Keberhasilan Innovoxa itu, tentu saja, ikut mendongkrak bisnis Grup Voxa.
Maka, perusahaan yang awalnya didirikan dengan modal Rp 200 juta asetnya kini sudah membengkak 10 kali lipat lebih. Begitu pun jumlah karyawannya, semula empat orang kini 50. Innovoxa yang awalnya hanya memiliki lima karyawan, sekarang 15 karyawan. Bicara soal omset, kalau dipukul rata, billing Innovoxa sekitar Rp 10 miliar setahun. “Untuk Voxa, bilingnya lebih besar ketimbang Innovoxa, tapi masih di bawah Rp 100 miliar kok,” ujar Estelita merendah.
Ladang bisnis yang dipilih generasi belia itu umumnya disesuaikan dengan kesenangan mereka. Lain dengan generasi sebelumnya, yang menggarap sektor padat modal dan padat karya. Bahkan, tak jarang mereka memadukan bisnis dengan hobi. Sektor bisnis yang dipilih kebanyakan berbau entertainment, gaya hidup dan fun.
Tengoklah Wishnu, kegemarannya mengisap cerutu membuatnya ditunjuk Pasifik Cigar Ltd – distributo eksklusif cerutu Kuba di Asia Pasifik – menjadi distributor cerutu Kuba di Idonesia. Sejak 1997, bersama seorang rekannya, Wishnu mendirikan PT Degiri Jaya Mandiri, pemasar tunggal produk tersebut. Wishnu – saat itu berusia 26 tahun – hanya perlu waktu dua minggu untuk menerima pinangan untuk menjadi agen tunggal Pasifik Cigar Ltd Indonesia. Keyakinannya yang kuat dalam memasarkan produk cerutu membuatnya yakin, bisnis yang digelutinya akan mendatangkan hasil. “Banyak yang tidak percaya saat saya membuka bisnis ini. Mereka secara sukarela menawarkan pekerjaan, jika saya dalam tiga bulan tak berhasil dalam bisnis,” katanya mengenang.
Keyakinannya dalam memasarkan ceruru di Indonesia itu bukan tanpa alasan. La Casa Del Habano yang didirikan dengan investasi Rp 1 miliar, relatif belum punya pesaing signifikan. Di sisi lain, Wishnu – yang memosisikan diri sebagai konsumen – merasa yakin mampu menggarap pasar cerutu. Lajang kelahiran Cepu, 24 April 1971 ini mengadopsi konsep toko cerutu di berbagai negara dan mengembangkannya di Indonesia sesuai selera lokal. “Saya mencoba mengerti keinginan konsumen, dan mewujudkan konsep toko yang sesuai keinginan mereka,” ia mengungkapkan.
Sejak 2000, Wishnu juga mengembangkan pasar cerutu ke Bali dengan membuka Cigars & Cigars. Saat ini, Casa Del Habano mampu menjual hampir 2 ribu stik cerutu/bulan, dengan harga mulai dari Rp 80 ribu per batang. Ke depan, mantan Guest Relations Officer Hotel Regent Jakarta ini berharap dapat terus mempertahankan pasar cerutu di Tanah Air, di tengah kondisi sulit yang dihadapi akibat berbagai gejolak yang muncul. “Kami bisa tetap survive saja, rasanya sudah senang,” imbuh Wishnu yang berkeinginan membuka sekolah wirausahawan.
Reza Budisurya pun menggeluti bisnis yang menjadi kesenangannya, yakni jalan-jalan dan melihat konsep berbagai tempat hang out anak muda. Ini yang mendorongnya membuka Score – paduan cafe fine dining dan tempat biliar di Cilandak Town Square. Kafe dan tempat biliar seluas 1.100 m2, berkapasitas 250 tempat duduk dan 15 meja biliar ditawarkannya untuk menyuguhkan tempat biliar yang eksklusif bagi kalangan menengah atas. Tak heran, untuk membangun Score, Reza menggelontorkan dana hampir Rp 10 miliar. Sementara itu, kesukaan pada makanan, entertainment, wine, musik dan art menjadi inspirasi bagi kelahiran Jakarta, 16 Juli 1972 ini membuka Warna Restaurant di Kemang, Mei 2000, menyusul setahun kemudian Manna Lounge. Score adalah “mainannya” yanghadir paling buncit.
Kemudian, Jennifer J.A. Supit juga mengembangkan bisnis karena hobi. Bersama rekannya, Agus Kartasasmita, Bayu dan Troy – semua hobi olahraga air – ia merintis PT Horizon Jet Support Club (HJSC). “Terus terang gue mengawali bisnis dari hobi. Gue hobi laut atau olahraga air,” kata penggemar berat jetski yang juga Direktur Pengelola HJSC ini.
Sekembalinya dari Australia, ia melihat di Indonesia hanya ada sedikit jetski. Itu pun harus menyewa di Horizon, Ancol, dan modelnya juga sudah sangat ketinggalan. “Hampir sebulan gue harus sewa untuk menyalurkan hobi berjetski,” kata kelahiran 23 September 1970 ini.
Ibu dari Philo Paz dan Petro Jevon ini mengaku kedua orang tuanya bingung melihat sepak terjang bisnisnya. “Gue senangnya yang praktis dan simpel,” katanya. Karena itu, ia tidak ingin melanjutkan bisnis yang dirintis orang tuanya yang salah satunya bergerak di perdagangan. “Terus terang gue error, dan nggak mau ikutan bisnis keluarga,” katanya. Alasannya simpel, tidak tertarik saja. Jalan yang ditempuh Aguy di belantara bisnis itu berbeda dari adik-adiknya yang memiliki link dengan bisnis ayahnya. “Cuma gue sendiri yang menyimpang. Gue kurang suka kerja dengan keluarga,” ujarnya.
Arini Subiantio pun sami mawon. Putri Komisaris PT Astra International Benny Subianto ini mengembangkan hobinya terhadap furnitur dan aksesori rumah, terlebih yang bergaya tahun 1950-an, menjadi lahan bisnis. Saat sekolah di jurusan Fashion Design Parsons School of Design New York, ia mulai senang menyambangi toko yang menjual barang-barang tersebut, bahkan menyusuri berbagai pasar loak. Ia memulai bisnis sendiri pada 1998, berpatungan dengan temannya, dengan mengibarkan merek Prodak di bawah payung PT Nuansa Nirman Artistika. “Sejak awal saya berniat mengelola merek sendiri,” ujar Arini.
Dengan modal awal Rp 500 juta hasil tabungan dan pinjaman dari perusahaan investasi PT Pandu Alam Persada dan PT Tri Nur Cakrawala milik keluarganya, Prodak memulai debutnya di Blok M. awalnya, seperti toko furnitur yang lain, ia menjual Prodak yang didesain sendiri lantasan pesanan masih sedikit. “Namun, lambat laun, kami mulai mendapatkan proyek besar,” katanya. Artinya, ia mulai mengerjakan interior dan renovasi rumah dengan mendesain dan mengisi ruangan, bahkan satu rumah.
Sementara itu, kecintaan Jureke pada makanan membuatnya tak kapok menyemai bisnis ini, meski sempat gagal. Resto Bennets – waralaba dari AS – memang hanya bisa bertahan setahun. Namun, justru itu membuatnya lebih pintar dan hati-hati dalam mengkalkulasi bisnis. Tahun ini ia dkk. Berencana membuka dua resto sekaligus. Avenue di bawah PT Wahana Samitra Pratama akan dibuka di Hotel Sari Pan Pacifik dengan mengambil lahan seluas 700 m2 dan mulai beroperasi Juni mendatang. “Ini resto ala New York, tapi hasil rancangan sendiri,” ujarnya. Dana yang dikucurkan untuk membangun resto ini mencapai miliaran rupiah.
Lalu, Oktober mendatang, Jureke yang kerap nongkrong di Mercantile Athletic Club ini akan menggulirkan Noodle Village di bawah bendera PT Aneka Boga Ciptarasa. Konsep resto yang mengambil tempat di Plaza Indonesia ini kental dengan suasana santai. Di tiap meja disediakan sambungan listrik dan Internet gratis bagi pengunjung yang membawa laptop. Bagi mereka yang tak membawa alat ketik, ia menyediakan warnet. “Noodle Village akan di-franchise-kan,” kata penyuka pakaian Next dan Mark & Spencer ini.
Bisnis lain yang tengah digeluti kelahiran Sumatra Utara, 28 Februari 1971 ini adalah bidang periklanan melalui PT Kreasi Advertising. Dengan investasi Rp 1 miliar, perusahaan ini banyak menggarap corporate identity bank-bank asing. Ia mengaku perkembangan bisnisnya cukup pesat. “Dalam beberapa bulan sudah balik modal,” tuturnya bangga seraya mengungkap omset per tahun sekitar Rp 5 miliar.
Putri pasangan Hardi Wijaya-Kurniawati Luhur itu juga menjadi pemegang lisensi produk aroma terapi dari Australia, Santalia, untuk kawasan Asia. Produk perawatan tubuh, mulai kepala hingga ujung kaki yang menyasar kalangan atas ini dijual di Club Store, Sogo, dan pusat perbelanjaan papan atas di Jakarta. Pemilik yacht dan pengendara BMW, Mercy, dan Jaguar ini mengaku saat ini belum mengembangkan Santalia untuk kawasan Asia. “Saya khawatir kurang fokus,” ungkap lulusan Ohio State University, AS ini berkilah.
Jadwal kerja Jureke makin padat karena ia juga salah satu pemilik firma hukum Kanon Arruanpitu Wibisono. Firma hukum yang berkantor di lantai ke-10 World Trade Center Sudirman ini lebih fokus menggarap perusahaan asuransi, properti dan keuangan. Di kantor inilah pehobi rafting dan traveling itu lebih intens hadir. Bahkan, pagi-pagi ia bisa ditemui di sini.
Anak muda adalah magma. Adrenalin mereka terus memompa keinginan melesat bak anak panah. Mereka selalu haus tantangan baru. Sudah punya dua ceruk bisnis yang eksis, Estelita masih saja mencari tantangan baru. Tahun lalu, ia menerima ajakan temannya bergabung di bisnis konsultan, Business Integration and Development Services (BIDS). “Saya surprise juga saat dipercaya mengelola BIDS, padahal tim yang ada sudah senior semua dan rata-rata menyandang gelar Ph.D,” katanya bangga.
Dengan tiga bisnis yang ditekuni, tentu saja jadwal kerja Estelita sangat padat. Rutinitas yang dilakoninya, bangun pagi pukul 8 pagi dan berangkat ke peraduan ketika jarum jam menunjuk angka 2 pagi. Setiap hari, dari pagi sampai sore ia ngantor di BIDS, Menara Kadin Kuningan. Dua hari sekali ia mendatangi dan mengontrol kantor Voxa dan Innovoxa di perkantoran Roxy Mas. “Kalau Voxa dan Innovoxa akan pitching, saya bisa tiap hari ke sana usai jam kantor,” tambah CEO BIDS ini. Menurutnya, dari ketiga bisnis yang tengah digelutinya, bisnis jasa konsultan yang memiliki prospek baik. Omset BIDS diakui Estelita berada di sekitar angka Rp 100 miliar/tahun.
Ira setali tiga uang. Ia juga ingin lebih mengepakkan sayapnya. Saat ini ia tak hanya mengurusi Nabila. Sejak November tahun lalu, Ira diberi kepercayaan oleh
Maher Algadri – sahabat Fahmi Idris – menjadi Direktur Penjualan & Administrasi Golden Spike Ltd., perusahaan perminyakan dan properti. “Sebenarnya saya termasuk orang yang sulit menerima tawaran orang. Namun, entah kenapa saya tertarik ajakan Pak Maher,” katanya. Di perusahaan itu ia diberi tugas mengembangkan bisnis, terutama pasar Australia yang kini sedang jadi bidikan Golden Spike.
Sebelum bergabung dengan Golden Spike, Juni 2002,
Ira bersama empat temannya mendirikan usaha baru, PT Mata Putra Indonesia, membidangi event organizer dan general printing. Perusahaan barunya ini sekarang tengah menggarap summer camp – semacam outbond untuk anak SMP dengan biaya per anak Rp 2 juta selama empat hari tiga malam. “Pemain di bisnis summer camp masih sedikit,” ujar Ira lagi. Ia mengaku sangat senang membuka usaha yang belum banyak digarap orang banyak.
Ibarat di medan pertempuran, dalam menggulirkan bisnis, mereka bukan tak pernah terkena batu sandungan. Antin Hernanto, salah satu pemilik Original Production (OP) – show management dan entertainment – sejak awal menyadari risiko bisnis yang digelutinya sangat tinggi. Pembatalan artis luar negeri pernah dialaminya. OP pernah gagal mementaskan dua kali pertunjukkan Deep Purple pada 2002. Walhasil, promosi yang dilakukan besar-besaran menjadi tidak berguna. “jika kami tidak menyenangi bisnis ini, pasti kerugian itu terasa berat,” kata kelahiran 6 April 1972 yang mangaku mendapat tempaan bisnis dari sang ayah, J.R. Oekon – mantan Direktur Pengolahan Pertamina dan presdir perusahaan pengapalan minyak Jepang.
Keterbatasan pengalaman yang dimilki diakui Arini membuatnya jatuh-bangun menghadapi berbagai hambatan. Misalnya, barang yang ditawarkan tidak laku, desain gambar salah, kesalahan produksi, hasil produksi yang jelek dan finishing yang tidak bagus. “Pada awal merintis bisnis, saya tidak memiliki tukang, sehingga sangat tergantung supplier. Pengalaman ini membuat saya tahu dan mencoba mencari resep sendiri,” kata ibu seorang putra, yang juga lulusan Jurusan Manajemen & Pemasaran Universitas Fardham, Graduate School of Business, New York ini. Arini pun mulai bisa mengenali pasar, mengelola perusahaan secara baik, mengatur karyawan, mengenali persaingan dan terlatih membuat desain yang disukainya setelah disesuaikan dengan pasar.
Bagi anak-anak muda, itu banyak cara menangkap peluang bisnis. Bahkan, di antar mereka ada yang menemukan inspirasi bisnis setelah menjelajahi dunia virtual. Tara, misalnya, mendapat informasi ihwal waralaba Cinnzeo Bakery dari Internet. Searching di dunia mayantara ini juga mengilhami Reza mengibarkan Score. “Saya searching di Internet, ternyata belum ada orang yang merancang interior tempat biliar seserius kami,” ujarnya.
Akan halnya Triana, lebih sering memanfaatkan jalur informal, dari mulut ke mulut, untuk mencari peluang bisnis. “Namanya juga bisnis yang berusrusan dengan perut, kepuasan seorangv pelanggan akan ditularkan kepada banyak orang sehingga lebih efektif,” tuturnya. Ide menggulirkan bisnis resto menurutnya datang dari temannya asal Singapura yang menyarankan membuka resto dengan konsep fusion – kala itu di Jakarta belum dikenal. Temannya itu meyakinkan dia, bisnis resto lebih aman asalkan dikelola dengan tepat.
Ternyata saran si teman tidak meleset. Kalkulasi bisnis sesuai target. Ia mengklaim Cinnabar mencapai BEP pada bulan ke-10 setelah beroperasi, lebih cepat dari target semula (1,5 tahun). “Saat itu sebagai pemula bisnis food and beverage kami tidak muluk-muluk pasang target,” ungkap ibu dua anak ini.
Kiprah bisnis yang ditekuni Triana – anak mantan Dirut Bank BRI Kamardy Arief – berawal dari keroyokan. Bersama dua temannya, Uli Panjaitan – anak mantan Menperindag Luhut Panjaitan – dan Dian Purba, mereka mendirikan PT Citra Ambrosia pada 7 Juli 2000. Dian dikenal Triana sejak masih duduk di bangku SMA dan Uli dikenalnya saat gaul dengan kawan-kawan lain.
Pertemanan memang kerap melahirkan tautan bisnis. Paling tidak begitulah anak-anak muda ini memilih mitra bisnisnya. Rekan bisnis yang digandeng Estelita, Reza dan anak-anak muda lainnya kerap dari kalangan dekat: teman main, teman sekolah, atau teman yang dikenalkan temannya.
Siapa pun mitra bisnis yang dipilih anak-anak muda ini, harapan orang tua sejatinya mereka mau meneruskan bisnis keluarga. Irwan Hidayat mengaku secara pribadi menginginkan usaha yang dibangun keluarganya dapat diteruskan anak-anaknya. Toh, Irwan tidak ingin begitu saja menyerahkan usahanya kepada anaknya. “Mereka perlu dipersiapkan,” ungkapnya.
Tak heran, Irwan pun memberikan “mainan” kepada putri sulungnya, Maria Reviani, yakni Kafe Flame. Di mata Irwan, pendidikan saja tidaklah cukup. “Mereka perlu pengalaman dan keberanian,” ungkapnya. Menurut Irwan, usaha ini merupakan sarana pelatihan yang baik bagi putrinya agar lebih matang dan lebih mengerti dunia bisnis. Ia percaya, tidak semua urusan bisnis dapat dipelajari di bangku sekolah saja. “Praktik langsung di lapangan terkadang jauh lebih bermanfaat,” katanya.
Sementara itu, Fahmi Idris membantah bisnis yang dikembangkan putrinya sebagai batu loncatan sebelum mewarisi bisnisnya. “Saya tidak seperti itu. Saya memberikan kebebasan bagi anak saya membangun bisnisnya sendiri,” ujar suami Kartini Hasan Basri – putri mantan Ketua MUI Hasan Basri. Justru, menurutnya, ia menyarankan kepada anaknya untuk membangun kerajaan bisnis sendiri. Betul, Pak Fahmi. Profesional masih banyak lho yang juga mumpuni mengurusi bisnis keluarga.

PARA BELIA DI KANCAH BISNIS
Andreas Thamrin
– 25 tahun
– Putra Hermes Thamrin
– Mengembangkan ritel online Games Market di Australia, yang menjual keping CD program entertainment, seperti game untuk PC, play station dan Nintendo.
– Bisnisnya telah berjalan sekitar empat tahun, dan dengan modal awal 30 ribu Aus$, ditargetkan mencapai BEP akhir 2003.

Anindya Novian Bakrie
– 30 tahun
– Putra Aburizal Bakrie
– Mendirikan Capital Managers Asia Pte., Ltd. (CMA) bersama beberapa teman. Perusahaan fund management, financial advisory dan investasi ini bermarkas di Singapura.
– Kliennya antara lain perusahaan besar dari India, Thailand dan beberapa negara Asia lainnya. Saat ini CMA menguasai 40% saham Antv – di stasiun televisi ini ia menjadi Dirut.

Agus Lasmono
– 34 tahun
– Putra Sudwikatmono
– Mendirikan grup Indika, yang semua usahanya mengarah ke entertainment dan life style. Pertumbuhannya, 10%-15% per tahun.
– Indika Entertain adalah rumah produksi and event organizer. Kini semakin solid dan banyak diperhitungkan kalangan TV.
– Radio Indika FM – diluncurkan tahun 2000 denagn modal Rp 3 miliar, mencatat pertumbuhan 90%-100%.
– Bisnis lainnya: Indika Telemedia (Visitel), penyedia jasa premium call.

Antin Hernanto
– 31 tahun
– Putra J.R. Oekoen
– Mengelola Original Production (OP), yang menangani pertunjukan musik dan event organizer. OP dirintis suaminya, Tommy Pratama, pada 1990.
– Sejak 2003, OP dikembangkan menjadi dua divisi dengan menambah divisi pop entertainment khusus menangani jasa event organizer.
– Tahun 2001 membuka toko bunga Cherin & Nitnat bersama teman-teman.

Aria Witoelar
– Putra Erna Witoelar
– Mendirikan PT Bubu Kreasi Perdana, 1996, yang membidangi desain web dan solusi aplikasi Internet.
– Pada 1998 berkongsi dengan Emil Abeng mendirikan Kafe Matabar di Wisma Metropolitan II dengan modal Rp 2 miliar.
– Bisnis lainnya, antara lain rumah produksi , yang mengelola pertunjukan musik.
– Sampai 2001 pendapatan usahanya Rp 5-6 miliar/tahun.

Arini Subianto
– 27 tahun
– Putri Benny Subianto
– Mendirikan PT Nuansa Nirmana Artistika, 1999, yang memproduksi berbagai furnitur dan aksesori rumah merek Prodak.
– Bisnisnya makin berkembang setelah kantor dan tokonya pindah dari Blok M ke Kemang. Pasarnya pun lebih ditekankan ke segmen premium.
– Dalam dua tahun pendapatannya meningkat sekitar 25%, dengan margin 40%-50%.

Denise Tjokrosaputro
– 27 tahun
– Putri pengusaha Batik Keris
– Mendirikan PT Tara Sentral (TS) bersama sepupunya tahun 1998, yang mengekspor berbagai bentuk kerajinan Indonesia, antara lain ke Inggris, AS dan Jepang.
– Mengekspor sekitar 5 kontainer kerajinan/bulan. Saat ini omset TS mencapai US$ 3-5 juta/tahun.

Dian Purba
– 29 tahun
– Putri drg. Darwan M Purba
– Bersama dua rekannya mendirikan restoran Cinnabar dan Magnolia, 2001. Sebelumnya, tahun 1997, bergabung untuk mengelola resto Dapoer Tempo Doeloe. Di tiga resto itu, sahamnya 25%-40%.
– Membuka Butik Tribute pada 2002 di Kemang, khusus memasarkan busana wanita impor dari AS dan Australia.

Edwin Abeng
– 31 tahun
– Putra Tanri Abeng
– Pemilik minimarket Aku Cinta Indonesia (ACI) melalui PT Multi Daya Retailindo. Kini ada 12 gerai ACI dengan omset Rp 1,3 miliar/bulan.
– Bersama teman-teman mengelola Kafe Matabar.
– Bisnis lainnya: mengembangkan rumah produksi Padi Film.

Elsi Lontoh
– Putri pengacara Rudi Lontoh
– Bersama Krisdayanti mendirikan perusahaan rekaman KD Record, yang akan konsisten memproduksi album-album musik bernuansa pop.
– Saham masing-masing 50%.

Erick Thohir
– 32 tahun
– Putra pengusaha Thohir
– Bersama tiga rekannya, M.Lutfi, Wishnu Wardhana dan Harry Zulnardi, mendirikan Grup Mahaka, membidangi pertambangan, agro, trading dan finance.
– Mahaka merambah ke bisnis media dengan mengambil alih Harian Republika, Majalah GolfDigest, Majalah A+, mendirikan Radio One dan rumah produksi Mahaka Visual.

Estelita Hidayat
– 31 tahun
– Putri drg. Hendra Hidayat
– Bersama kakaknya Marisa Hidayat mendirikan perusahaan periklanan Voxa Communication, 1995. Salah satu produk suksesnya, Innovative Media.
– Membengkaknya klien mendorongnya mendirikan perusahaan Innovoxa pada 1999, yang memelopori penggunaan eskalator dan elevator di pusat pertokoan sebagai media iklan.
– Mengelola biro konsultan Business Integration Development Service.

Fahira Fahmi Idris
– 33 tahun
– Putri Fahmi Idris
– Mendirikan Nabila Florist Parcel & Balloon sejak kuliah.
– Bergabung dengan jaringan Florist dunia FTD (Interflora) yang beranggotakan 4.500-an pengusaha, sehingga bisnis parselnya kini mendunia. Omsetnya Rp 7,5 miliar/tahun.
– Tahun 2002 mendirikan PT Mata Putra Indonesia, event organizer dan general printing.

Fransisca Liem
– 26 tahun
– Cucu Liem Soe Liong
– Bersama Martina Sudwikatmono mendirikan PT Marmitria Raya Tirta, pengelola merek Gucci, Hermes dan Guess untuk pemasaran di Indonesia. Saat ini gerainya antara lain di Plaza Senayan, Plaza Indonesia dan Mal Taman Anggrek.

George Oetomo
– 30 tahun
– Keponakan Budi Setiadharma
– Mengelola rental VCD/DVD Video Ezy, waralaba dari Australia. Belum genap setahun mencapai BEP. Saat ini George memiliki 10 gerai yang tersebar di Jakarta dan Bali.
– Bisnis lainnya: Indofinanz.com, portal Internet jasa keuangan Indofinanz didirikan tahun 2000 bersama temannya, Wisri Sanrow.

Herman Dharmawan
– Putra Harry Dharmawan
– Mengembangkan life style store Valu$, ritel khusus dengan konsep pemasarn satu harga Rp 5 ribu.
– Pertumbuhan Valu$ terbilang pesat. Gerainya 40 lebih – 10 di antaranya di Singapura.

Jennifer Supit
– 31 tahun
– Putri Rae Sita Supit
– Bersama temannya, Bayu, membuka klub jetski, Horison Jets Club, yang menyediakan aksesori jetski, bengkel dan rental jetski. Modal awalnya sekitar Rp 100 juta. Omsetnya sekitar Rp 50 juta/bulan.
– Bisnis lainnya: memproduksi cenderamata seperti tas, sepatu, gelang dan sandal untuk pasar lokal dan ekspor.

Johar Alam
– Putra Tarmizi Rangkuti
– Mendirikan PT Internetindo Data Centra Indonesia bersama istri dan dua rekannya yang membidangi pusat data.
– Modal awalnya ratusan ribu US$ dari investor ventura asal Korea Selatan.
– Kini Internetindo mempunyai 85 klien, separuhnya adalah ISP. Omsetnya, sekitar Rp 800 juta/bulan.

Jureke Kusuma
– 32 tahun
– Cucu salah seorang pendiri Grup ABC
– Membuka resto Bennets, jaringan waralaba resto asal AS, Mei 1997.
– Mendirikan Kreasi Advertising, khusus menggarap corporate identity bank-bank asing.
– Mendirikan firma hukum Kanon Arruanpitu Wibisono. Kliennya, perusahaan asuransi, properti dan keuangan.
– Pemegang lisensi Santalia Aromaterapi, produk-produk aromaterapi, dari Australia.

Maria Reviani Hidayat
– 27 tahun
– Putri sulung Irwan Hidayat
– Membuka Flame, Wine and Grill Café di kompleks Bale Air Jakarta, 2001. kafe yang dilengkapi dengan pertunjukan musik ini menyasar segmen anak muda. Targetnya, dalam tiga tahun mencapai BEP.

Raymond Pribadi
– Putra Henry Pribadi
– Membuka resto khas Indochina The Campa di Kebayoran Baru. Resto yang dikelolanya dilengkapi dengan berbagai ornamen dan benda antik Asia yang dipadukan dengan nuansa modern.

Reza Budisurya
– 30 tahun
– Putra Teddy Budisurya
– Membuka Warna Restauran pada 2000. Setahun kemudian membuka Manna Lounge, kafe yang dikelola dengan konsep galeri dan resto.
– Mengembangkan bisnis lain dengan membuka Score, paduan kafe dan tempat biliar ekslusif bagi kalangan menengah-atas. Pembangunannya menelan dan Rp 10 miliar.

Silria Sari
– 30 tahun
– Menantu Nunun Daradjatun
– Bersama kakaknya Siltya Geni, membuka bisnis toko bunga Le Siga, 1997, dengan modal Rp 30 juta.
– Tahun 1998 bisnisnya merambah ke biro perjalanan. Bisnisnya makin berkembang sehingga mendirikan PT Lembah Sitapung Gadang Wisata.
– Tahun 1999 terjun ke bisnis wedding decoration, yang menawarkan paket dari Rp 7,5 juta hingga Rp 200 juta.

Tara Diandra Amalia
– 27 tahun
– Keponakan Adiguna Sutowo
– Mengelola bisnis bakeri merek Cinnzeo Bakery & Cinnamon Treasures, waralaba dari Global Cynergy Corporation Kanada. Gerai pertamanya dibuka di Mal Kelapa Gading, menyusul kemudian di Plaza Indonesia.
– Konsep Cinnzeo berbeda dari bakeri lainnya, antara lain menyajikan pembuatan bakeri di depan pengunjung. Ke depan ia mnergetkan membuka 6 gerai lagi di Jakarta.

Trianasari
– 28 tahun
– Putri Kamardi Arief
– Bersama teman-temannya membuka resto Cinnabar di Plaza Gani Jemaat tahun 2000. Cinnabar mencapai BEP pada bulan ke-10.
– Pada 2001 membuka lagi resto Magnolia di Plaza Senayan. Tahun 2003, cabang baru Magnolia dibuka di Mal Kelapa Gading. Nilai investasi untuk membuka satu resto diperkirakan Rp 1 miliar.

Wishnu Bintang
– Mendirikan PT Degiri Jaya Mandiri (DGM) – agen tunggal pemasaran produk cerutu Kuba dari The Pacifik Cigar Co. Ltd – pada 1997.
– Untuk memasarkan cerutu yang diageninya, ia membuka kafe cerutu Kuba, La Casa De Habano, di Hotel Mandarin Oriental Jakarta. DGM juga memasok cerutu ke berbagai gerai di hotel, resto dan bar.
– Satu kafe cerutu miliknya dibuka di Bali dengan nama Cigars & Cigars.

Fahira Fahmi Idris.
“Modal awalnya dikumpulkan dari teman-teman.”

ARINI SUBIANTO.
Sejak awal berniat mengelola merek sendiri.

Leave a Comment

Harta Keluarga Cendana: Dari Jawa Hingga Mancanegara

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ribut-ribut soal harta Soeharto yang akan dikembalikan kepada pemerintah menimbulkan sebuah pertanyaan penting, berapa sesungguhnya harta milik Soeharto? Atau lebih tajam lagi, berapa harta mantan presiden Indonesia itu yang diperoleh dari hasil KKN?

Seperti diketahui, pekan ini, dalam perjalanannya keluar negeri, Presiden Abdurrahman Wahid melontarkan pernyataan menarik. Pemerintah dan keluarga Cendana tengah melakukan pembicaraan soal pengembalian harta milik Soeharto kepada pemerintah. Masyarakat pun sibuk bergunjing. Pertama, soal status hukum mantan penguasa Orde Baru itu jika mengembalikan hartanya, yang dituduh sebagai hasil KKN. Dan kedua, seperti disebut di atas, soal jumlah harta Cendana itu sendiri.

Banyak versi tentang berapa jumlah kekayaan Keluarga Cendana. Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) pernah menaksir Rp 200 triliun, sedangkan majalah Forbes memperkirakan sebesar US$ 4 miliar. Kekayaan pribadi Soeharto? Mantan RI-1 itu pernah menyatakan tidak punya uang satu sen pun di luar negeri. Sumber di Gedung Bundar Kejaksaan Agung—yang khusus menyelidiki, meneliti, dan mengklarifikasi—mengatakan, Soeharto memiliki uang sebanyak Rp 23 miliar di sejumlah rekening BCA dan bank pemerintah.

Cuma itulah, agaknya, yang sejauh ini bisa ditelisik aparat kejaksaan. Di luar negeri? Tangan kejaksaan di sejumlah kedutaan gagal menemukan harta atas nama Soeharto. Tapi koran The Independent, terbitan London, Inggris, 16 Maret tahun lalu, menghentak dengan kabar eksklusif bahwa Keluarga Cendana menjual properti di London senilai 11 juta poundsterling. Jaksa Agung waktu itu, Andi M. Ghalib, tak bisa menjelaskan soal itu dengan meyakinkan. “Akan kami cek lewat Departemen Luar Negeri, nanti,” katanya enteng.

Data lain yang pernah membuat “geger” adalah temuan George Junus Aditjondro, pakar sosiologi korupsi yang kini mengajar di Universitas New South Wales, Australia. Sejak 1997, George menelusuri data kepemilikan properti putra-putri dan kerabat mantan presiden Soeharto. Sumbernya mulai dari lembaga swadaya masyarakat, pejabat pemerintah berbagai negara, sampai wartawan beragam media dalam dan luar negeri.

Sebenarnya tak cuma itu hasil galian George. Ada setumpuk data rinci tentang kerajaan bisnis Soeharto beserta kroni-kroninya di seantero jagat. Disertakan pula penjelasan ihwal bagaimana trik-trik bisnis yang mereka lakukan. Investigasi tersebut masih disimpan sampai pengusutannya betul-betul sahih dan akurat. “Saya tak ingin terjebak gugatan. Sekarang Probosutedjo, nanti Tutut, Titiek, Sigit, ha-ha-ha…,” kata George. Nah, karena tak ingin terjebak, George hanya mengangkat data yang, menurut dia, bisa dipertanggungjawabkan.

Berikut ini sejumlah tabel yang menggambarkan sebaran properti milik Keluarga Cendana, dari Jawa hingga mancanegara.

Tabel 1. Tanah Keluarga Cendana (Versi TEMPO)

Lokasi

Luas

Sumatra Utara

346 ha

Sumatra Barat

38.280 ha

Riau

180.000 ha

Jambi

147 ha

Kalimantan Selatan

350.000 ha

Kalimantan Timur

2.443.338 ha

Sulawesi Utara

25 ha

Jawa Barat

35.098,8 ha

DKI Jakarta

281,1 ha

Jawa Tengah

21,8 ha

Yogyakarta

150 ha

Jawa Timur

690 ha

Bali

210,7 ha

Nusa Tenggara Barat

1.745 ha

Timor Timur

564.867 ha

Total

 

Tabel 2. Tanah Keluarga Soeharto (Versi Kejaksaan Agung)

Lokasi

Luas

DKI Jakarta

101.904 m2

Yogyakarta

30.515 m2

Kalimantan Timur (HPH)

265.982 ha

Total luas tanah

279.223 ha

Tabel 3. Sebaran Harta Cendana

(Versi George Yunus Aditjondro)

Eropa

Probosutedjo

Norfolk House, Putney Hill, London. Bangunan bertingkat empat ini punya sembilan kamar tidur, garasi ganda, serta pekarangan berumput sepanjang 50 meter di belakangnya.

Dibeli pada 1973 seharga 93 ribu poundsterling, dan sejak Januari lalu sudah ditawarkan lewat agen realestat Foxtons seharga 1,4 juta poundsterling (Rp 21 miliar).

Siti Hardiyanti Rukmana

Beberapa apartemen di 16 Hyde Park Square, Mayfair, London. Dibeli sekitar tahun 1988 seharga 350 ribu pound melalui Citibank, London. Sesudah krisis moneter, direnovasi dengan biaya 110 ribu pound, yang rekeningnya dikirim ke KBRI, yang menolak untuk membayarnya.

Sigit Harjojudanto

Rumah mewah berlantai tiga dengan lima kamar tidur di Winnington Road No. 8, East Finchley/Hampstead, London.

Di Swiss, Sigit punya rumah di perbukitan sekitar Danau Jenewa, yang dibeli untuk Seto Harjojudanto, anak keduanya, yang menderita penyakit polio.

Sejak Januari lalu ditawarkan lewat agen properti John Wood & Co. seharga 1,95 juta pound (Rp 29 miliar), ditambah ongkos renovasi.

Elsje Ratnawati Harjojudanto

Rumah mewah berlantai tiga dengan sembilan kamar tidur di Winington Road No. 89, East Finchley/Hampstead, London.

Sejak Januari lalu ditawarkan lewat agen properti John Wood & Co. Harga penawaran pertama adalah 9,5 juta pound, yang belakangan ini diturunkan menjadi 8 juta pound.

Siti Hediyati Prabowo

Sejumlah apartemen di Upper Grosvenor Road No. 38, Mayfair, London.

Hutomo Mandala Putra

Rumah besar, lengkap dengan padang golf 18 lubang, di dekat Pacuan Kuda Ascot, London Utara. Rumah peristirahatan di Brighton, kota pantai disebelah selatan London.

Pantai Barat Amerika Serikat

Sudwikatmono

Di Hawaii

Kondominium dengan dua kamar, di gedung bertingkat Plaza Landmark No. 290, Likini Street, Honolulu, Hawaii.

Dibeli Mei 1985 seharga US$ 216,4 ribu. Pada 1997, kondominium ini—di kantor pajak jelas-jelas tercatat atas nama Sudwikatmono—ditaksir bernilai US$ 253 ribu.

Di California

Rumah di North Hillcrest Drive No. 605, Beverly Hills.

Rumah ini tercatat sebagai milik C. Elliot Fitzgerald, tapi warga Indonesia mengetahui ini milik Sudwi sejak 1980-an. Tiga orang anak Sudwi–Martina, Miana, dan Agus Lasmono–tinggal di rumah ini semasa studi mereka.

Rumah di North Hillcrest Drive No. 701, Beverly Hills.

Dibeli pada 1994 oleh New Hillcrest Inc. seharga hampir US$ 5 juta. Masih sering dihuni anggota keluarga Sudwikatmono, terutama si bungsu Agus Lasmono, yang jip Lamborghininya sering terparkir di sini.

Bambang Trihatmodjo

Kondominium di Beverly Hills 27, California (interiornya pernah dimuat di majalah Tiara). Bersama teman-temannya, Bambang Tri berbisnis jual beli apartemen mewah di Beverly Hills.

Hutomo Mandala Putra

Dikabarkan memiliki salah satu kondominium mewah di kompleks Beverly Park, Beverly Hills.

 

Pantai Timur Amerika Serikat

Dandy Rukmana dan Danty Rukmana (anak-anak Tutut)

Tiga rumah di luar Kota Boston, di Negara Bagian Massachusetts:

  1. Hubbard Road No. 60, Weston, daerah elite 20 mil dari Boston. Oktober lalu, rumah ini ditaksir bernilai US$ 2 juta.
  2. Bishops Forest Drive 337, Waltham, lima mil dari pusat Kota Boston.
  3. Bishops Forest Drive 337, Waltham, Middlesex County.

Kondominium (nomor 2) dibeli Dandy Rukmana pada 1992 seharga US$ 237 ribu. Rumah (nomor 3) sudah dijual pada 1995 seharga US$ 255 ribu. Dandy dan Danty tetap menggunakan alamat ini untuk surat-surat pemilikan mobil-mobil mewah, yang tidak sedikit.

 

Kawasan Laut Karibia

Hutomo Mandala Putra

Di Cayman Islands, British West Indies, Tommy memiliki perusahaan Mabua International Ltd., salah satu pusat pencucian uang.

Keluarga Soeharto juga punya rumah peristirahatan di kawasan ini.

Selandia Baru

Hutomo Mandala Putra

Kawasan wisata berburu Lilybank Lodge seluas 2.500 hektare di pegunungan di Pulau Selatan. Diperoleh Tommy dan partner bisnisnya dari Singapura, Alan Poh, 1992, dengan biaya sewa pakai 2 juta dolar NZ. Ongkos renovasi 4 juta dolar NZ. Akhir tahun lalu, Lilybank Lodge ditawarkan ke pasar 10 juta dolar NZ karena pengunjung merosot terus akibat publikasi negatif yang dikaitkan dengan crony capitalism Soeharto.

Leave a Comment

Suharto Inc

The global business empire of Indonesia’s first family and friends represent an intricate web of connections and concessions. A look at how being in with President Soeharto can pay off.

April 6, 1998

Former Prime Minister Paul Keating, in a speech delivered at the University of NSW a few weeks ago, rightfully criticized the inaccurate view that had taken hold in some quarters in Europe and America that the Soeharto regime in Indonesiashould be mentioned in the same breath as the late dictators Ferdinand Marcos of the Philippines and Mobutu Sese Seko of Zaire.

The family of President Soeharto has not kepts its billions of dollars in Swiss bank accounts. Or at least, not that anyone knows. Nor have the Soehartos bought luxurious properties abroad — except perhaps Tommy Soeharto’s multi-million-dollar hunting resort and lodge in New Zealand’s Southern Alps.

Utilizing the expertise of many Western and Asian bankers and business consultants, the Soehartos have instead built global business empires from the wealth generated from their business ventures at home, ventures often assisted by government contracts and concessions.

One of their most important business investments is in the First Pacific Group, set up in Hong Kong 12 years ago. The Soeharto family are represented in this giant conglomerate through Predsident Soeharto’s cousin, Sudwikatmono, who grew up with Soeharto in the village of Wuryantoro in Central Java.

While Sudwikatmono is only a minor shareholder in the group’s main company, its huge profits topping US$ 152 million, before the crash at least, meant it was still worth a lot of money.

First Pacific’s main shareholder is Liem Sioe Liong, the Soeharto family’s oldest business partner, whose friendship with the President goest back to Soeharto’s early army days in the 1950s. Liem heads the Salim Group, the largest private conglomerate in Indonesia and Soeharto’s cousin, Sudwikatmono, is also heavily involved. One of Salim’s most important arms is Bank Central Asia, the largest private bank in the country, which is one-third owned by Soeharto’s eldest daughter, Tutut or Siti Hardiyanti Rukmana, and her younger brother Sigit Harjojudanto. The Liem family has just under one quarter.

Back to First Pacific. Thanks to its Filipino managing director, Manuel Pangilinan, the group aggressively invested into the Philippines, buying among others a local icon, Tanduy Distillery. As well, First Pacific also opened a string of companies in the Philippines, while a First Pacific-led consortium of 20 regional business giants is transforming Fort Bonifacio, an old Spanish monument in the heart of Manila, into a US$ 2.4 billion ($ 3.6 billion) shopping, office, and residential block.

First Pacific employs more than 45,000 people in 40 countries, including Australia. Here FPD, First Pacific Davis, the real estate and property consultancy firm, has signs sprouting on top of high rise buildings.

After accumulating their wealth from shares in Salim and other businesses, Tutut, Bambang, and Tommy, three of Soeharto’s six children, began to set up their foreign business beach heads.

Benefitting from her father’s profile on the world stage, especially in other developing countries, Tutut has taken a big stake in companies building and operating toll roads in Malaysia, the Philippines, Burma, and China. These roads will often not be transferred to the host countries for up to 25 years.

Meanwhile, Bambang has linked up with companies in Manila and Sydney to build water supply projects and power plants in the Philippines, Indonesia and China. More adventurously, he has also joined up with the Sydney-based Canadian mining magnate Robert Friedland in gold mining in Vietnam, Burma and Khazakstan.

Bambang and his younger brother Tommy are also expanding their Singapore-based oil and gas tanker fleets, serving the South Korean, Taiwanese and Arabic markets.

Oil is not a new business field for the Soehartos. Since the mid 1980s, the President’s cousin, Sudwikatmono, along with Bambang, Tommy, and one of their cronies, the Bakrie brothers, have sold crude oil and natural gas from their Hong Kong based companies. They were the only Indonesians excempted from Indonesian law, which designated the state’s oil mining company, Pertamina, as the monopoly exporter of oil and gas.

Another important business ally to the Soeharto sons, Tommy, Sigit, and Bambang, is Bob Hasan, the man just appointed Indonesia’s minister for trade and industry. Hasan is a long-time friend of the President. His chief business, the Nusamba group, is 80 per cent owned by three foundations chaired by the President. The other shares are owned by Hasan and Sigit. Hasan’s fortune revolves around his monopoly on the country’s plywood business and he holds some five million hectares of forest concessions from the Indonesian Government.

When the IMF moved into Indonesia during the crisis, one of its demands was an end to the plywood monopoly. While Soeharto initially agreed, since Bob Hasan has been appointed to the Cabinet he has publicly defended Indonesia’s monopoly of trade and so far his own plywood interests remain intract.

President Soeharto’s in-laws have also flourished under the regime, especially the in-laws of Titiek, Soeharto’s middle daughter, the Djojohadikusumos. Financed by their banking empire, which grew apace in the last five years under the eyes of Titiek’s brother-in-law, the former Central Bank governor Dr. Soedradjad Djiwandono, the joint Djojohadikusumo-Soeharto companies have also expanded globally. Their tentacles reach from a million-hectare timber concession in Cambodia to cotton plantations and a textile mill in Uzbekistan. The Cambodian concession was revoked by Pnom Penh last January in retaliation against the cancellation of Cambodia’s entry into ASEAN.

A business partner of Titiek, the Indonesian textile magnate Marimutu Sinivasan, is planning to build five textile and polyester factories in Europe through a joint venture with the German chemical giant Hoechst.

While the Soeharto kids trot the globe, uncle Sudwikatmono and Soeharto’s oldest business operator, Liem Sioe Liong, expanded their own “gold mine”: PT Bogasari Flour Mills and the instant noodle factories under the umbrella of PT Indofood.

The flour mills in Jakarta and Surabaya were initially set up in the early 1970s to mill all American wheat imported under the “food for peace” arrangement with the United States. Since 1977, its majority shareholder is Christine Arifin, whose husband, Bustanil Arifin, a retired general, was the head of the national food trade regulator, BULOG. Besides, Mrs. Arifin is a relative of the late Mrs. Tien Soeharto, and the Arifins sit on the boards of several Soeharto-led foundations.

For a quarter of a century, Bogasari monopolized much of Indonesia’s wheat import, flour milling, and the instant noodle marketa. Two other flour milling companies in Indonesia are owned by a Soeharto foundation and his daughter Tutut.

Under this monopoly, Indonesia’s wheat imports grew from less than a half a million tons in 1974 to more than four million tons in 1996. Australia is the leading supplier of this wheat.

Having control over the bulk of the flour milled, the Liem’s Salim group took over 22 instant noodle factories all over Indonesia, merging them under the umbrella of PT Indofood.

This wheat cartel generates lucrative profits to Bogasari and Indofood shareholders, who include foundations linked to the first family. It operates without the transparancy demanded from public and state-owned companies. As well, Bogasari charges a high price for milling the wheat compared with the costs in other countries.

President Soeharto agreed with the IMF last January to abolish this monopoly. However, as Vice President B.J. Habibie admitted last month, this is one point in the IMF agreement which the Indonesian Government feels it will be difficult to fulfill. The other is abolishing son Tommy’s clove monopoly.

With high flour prices, Indofood has pushed nearly all of its competitors out of the market. Consequently, it currently controls 90 per cent of Indonesia’s domestic instant noodle market.

Indonesia’s high wheat import bill has also helped increase the country is import bill for cereals to ore than US$ 1 billion. This dependence on imported foodstuff has reached disturbing levels over the past three years as wheat noodles edge out rice as a source of carbohydrate for more and more Indonesians, draining the country’s foreign exchange.

Indofood has further aggravated this problem by investing in overseas companies, rather than increasing instant noodle export from Indonesia. During the last five years, Indofood bought stakes in existing flour mills and prepackaged food companies in Malaysia and the Philippines, and set up a joint venture in Arab Saudi to produce instant noodles for the Arab consumers.

John Howard’s recent $ 380 million special trade credit insurance to help Australian wheat exporters to Indonesia compete with US and Canadian competitors, will certainly be very warmly welcomed by the Bulog-Bogasari-Indofood wheat cartel and certainly be very welcomed by the Liem conglomerate.

But many critical voices are now being raisxed against Indonesia’s wheat cartel. They include the IMF and the World Bank, but there are also voices inside Indonesia. Dr Saleh Affif, the former head of the National Planning Board, lost his job due to his public opposition to this powerful cartel. He is only one of many Indonesian economists, who have criticized it in past decades.

The combined domestic and overseas assets of the Soehartos and their close friends make them some of the richest families in Indonesia. This certainly differentiates them from the Marcoses and the Mobutus, who were only building up their Swiss bank accounts and luxurious villas overseas.

Protected by host countries’ as well as international laws, the Soeharto children and grandchildren may continue to collect their rents from overseas toll roads, tanker fleets and real estate companies and global investments long after their father has ceased ruling Indonesia.

George Junus Aditjondro
Dept. of Sociology and Anthropology, University of Newcastle, Australia

Leave a Comment